Loading...

UPJA Bagyo Mulyo, Siapkan Pompa Air untuk Tanam Padi di Musim Kemarau

13:28 WIB | Wednesday, 11-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Indarto

Memasuki musim kemarau tahun ini sejumlah petani di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah yang lahannya belum dilengkapi sarana irigasi tak berkecil hati. Pasalnya, UPJA Bagyo Mulyo sudah menyiapkan tujuh pompa air untuk membantu irigasi anggota Poktan Ngudi Rejeki dan Ngudi Mulyo.

 

Manager UPJA Bagyo Mulyo, H. Karjono mengungkapkan, UPJA yang berada di bawah naungan Gapoktan Tani Mandiri ini dibentuk pada tahun 2014. UPJA yang berlokasi di Desa Galangan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo tersebut menaungi 293 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani (Poktan).

 

“Luas lahan yang kami kelola sebanyak 170 ha. Namun tak semua punya fasilitas irigasi teknis. Hanya 90 ha yang sudah memiliki fasilitas irigasi teknis sisanya sebanyak 80 ha berupa lahan tadah hujan yang lokasinya jauh dari irigasi teknis,” kata H. Karjono, di Jakarta.

 

Menurut H. Karjono, ada dua kelompok tani yang lahannya belum dilengkapi dengan fasilitas irigasi. Dua Poktan tersebut adalah Poktan Tani Ngudi Rejeki dan Ngudi Mulyo. Kedua Poktan ini berlokasi di Desa Jambu, Desa Dliyun, dan Desa Kranggan. Lahan sawah petani di tiga desa tersebut memang agak jauh dari aliran irigasi teknis.

 

“Agar petani di dua Poktan tersebut bisa tanam padi di musim kemarau, kami lakukan pipanisasi untuk memudahkan pengambilan air dari Sungai Bengawan Solo. Air dari sungai tersebut kami pompa dan dialirkan ke pipa untuk “mengoncori” sawah petani,” papar H. Karjono.

 

Guna mengairi lahan sawah di tiga desa tersebut, UPJA Bagyo Mulyo sudah menyiapkan tujuh pompa air. Ketujuh pompa air itu sebanyak 5 unit bantuan dari Kementan, 2 unit dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo dan 1 unit milik Poktan.

 

“Pompanisasi yang dilakukan di dua Poktan itu tujuannya untuk membantu mereka. Sehingga, kami tak menarik sewa atau ongkos untuk pompanisasi ini. Mereka hanya kami mintan iuran Rp 500 ribu/kelompok untuk pembelian solar selama 1 musim tanam,” jelas H. Karjono.

 

Pada musim tanam (MT II) yang bertepatan musim kemarau tahun ini, sejumlah petani di tiga desa tersebut sudah olah tanah dan sebagian lainnya sudah melakukan tanam padi. Bahkan, padi yang mereka tanam saat ini sudah berumur satu bulan.

 

UPJA Bagyo Mulyo yang berada di bawah naungan Gapoktan Tani Mandiri tak hanya melakukan pompanisasi di desa-desa yang tak terjangkau irigasi namun juga mendorong petani untuk melakukan sistem tanam campuran, seperti mina padi. Persiapan mina padi dilakukan di lahan seluas 13 ha, di masing-masing Poktan.

 

“Jadi, ke empat Poktan, seperti Poktan Ngudi Rahayu, Ngudi Mulyo, Ngudi Rejeki dan Asri Rata kami dorong untuk mengembangkan mina padi,” ujar Karjono.

 

Menurut H. Karjono, rata-rata luas lahan mina padi yang dikembangkan masing-masing Poktan 3-4 ha. “ Budidayanya sudah kami mulai dengan ikan nila merah dan padi yang tahan terhadap air. Pada Juli nanti ikannya bisa dipanen dan tak lama kemudian padi yang ditanam bersama ikan nila merah juga dapat dipanen,” papar Karjono.

 

Ia mengatakan, mina padi yang dikembangkan di setiap Poktan dalam kurun waktu satu bulan terakhir sudah kelihatan bagus. Artinya, padi yang ditanam sudah kelihatan pertumbuhannya. Ikan nila merah yang dibudidaya juga tampak berkembang dengan baik.    Selain mina padi, UPJA Bagyo Mulyo di musim kemarau tahun ini juga mengembangkan korporasi petani. “Kami juga melakukan korporasi petani di UPJA ini. Kami coba budidaya padi dengan luasan 8-10 ha yang dikelola oleh 1 kelompok tani. Budidaya padi di hamparan yang luas ini juga sudah dimulai penanamannya,” jelas Karjono.

 

Menurut H. Karjono, penanaman padi dengan luasan 8-10 ha yang dikelola secara berkelompok akan terus dikembangkan pada tahun ini. Sebab, dengan penanaman padi secara terkorporasi petani akan mendapat banyak nilai tambah, misalnya bisa melakukan penanganan hama lebih mudah. “Saat panen juga lebih efektif dan efisien. Ketika hasil panennya dijual, petani bisa mendapatkan harga lebih baik,” ujarnya.

 

Pemanfaatan Maksimal

 

UPJA Bagyo Mulyo sejauh ini terus berupaya mengembangkan pemakaian alsintan di kalangan petani dan kelompok tani di Kecamatan Tawangsari Jawa Tengah. Penggunaan alsintan sangat besar dirasakan manfaatnya oleh petani. Hal itu bisa dilihat dari hasil panen padi sebelum dan sesudah menggunakan alsintan.

 

“Sebelum diterapkan mekanisasi, rata-rata produksi padi petani di sini sebanyak 8-8,5 ton/ha. Setelah petani menggunakan alsintan, rata-rata produksi padi yang dihasilkan sebanyak 10-11 ton/ha. Penggunaan alsintan yang dilakukan petani di sini juga sudah maksimal,” papar H. Karjono.

 

Penggunaan alsintan menurut perhitungannya bisa menekan biaya produksi pertanian. Sehingga, penggunaan alsintan jauh lebih efektif dan efisien. “Sebelumnya, pembibitan tak menggunakan tray. Artinya, hanya disebar di tempat penyemaian. Setelah menggunakan tray, bibit padi yang dihasilkan lebih sehat,” ujarnya.

 

Menurut H. Karjono, dalam hal mengolah tanah, semua petani di sini 100% menggunakan traktor. Begitu juga untuk panen sudah 100% memanfaatkan combine harvester. Namun untuk penggunaan rice transplanter sejumlah petani masih mengalami kendala. “Karena dua rice transplanter yang kami miliki rusak. Jadi, hanya tinggal satu yang bisa dioperasikan secara maksimal,” tutur H. Karjono.

 

Ia mengungkapkan, rice transplanter yang dimiliki UPJA kalau dilihat dari pemakaiannya sudah over load. Artinya, yang menggunakan banyak, sedangkan alat yang tersedia sangat sedikit dari kebutuhan petani. “Untuk itu, kami berupaya menambah beberapa unit mesin penanam padi ini supaya semua petani bisa memanfaatkannya,” ujarnya.

 

Sejak awal tahun 2015 UPJA Bagyo Mulyo telah mendapat bantuan sejumlah alsintan dari Kementerian Pertanian (Kementan). Tercatat, bantuan yang diterima UPJA Bagyo Mulyo di antaranya, 4 unit traktor roda 2, 3 unit traktor roda 4, 1 unit combine harvester, 2 unit combine harvester mini dan 3 unit rice transplanter.

 

UPJA Bagyo Mulyo juga mendapat bantuan 1 unit rice transplanter roda 4, 2 unit Apo, 2 unit motor roda 3 dan 2 unit alat potong rumput.

 

Bantuan alsintan tersebut menurut Karjono, semuanya telah dimanfaatkan oleh petani dengan cara menyewa. Seperti, traktor roda 2 sewanya hanya dipatok Rp 350 ribu/ha. Dengan memanfaatkan traktor ini, kegiatan olah tanah menjadi lebih cepat. Artinya, penggunaan traktor lebih efektif dan efisien.

 

Sedangkan sewa rice transplanter satu paket hanya dipatok Rp 1 juta. Dengan alat ini, tanam padi di lahan seluas 1/2 -1/4 ha hanya butuh waktu kurang dari 1/2 hari. Biaya sewa combine harvester hanya dipatok dengan sebesar Rp 800 ribu/ha. Sedangkan untuk sewa traktor roda dua hanya dipatok Rp 350 ribu/ha.

 

Petani di sini rata-rata kepemilikan lahannya hanya 1/2 – 1/4 ha. Tapi ada juga yang memiliki lahan hingga 1 ha. “Hampir 100% petani di sini sudah memanfaatkan alsintan untuk olah tanah. Namun, untuk penggunaan mesin tanam masih sekitar 50%-60%,” jelas Karjono. Idt/Ira/Ditjen PSP.

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162